Tempat belanja online busana muslim mulai dari Gamis, blus, kaos, jilbab, kerudung, baju koko untuk pria dengan harga terjangkau.
Showroom
Jln Swadaya II A No. 3 Poltangan Tanjung Barat Jakarta Selatan
- (021)93329422, 081316209621, 082125437448, 0878 89316065
email : rumahmadina@gmail.com
“Perang” budaya di perbatasan malaysia
Pada Saat sebagian besar orang Indonesia berleha-leha dan bak baru kebakaran jenggot oleh klaim-klaim Malaysia, kota-kota di perbatasan dengan negara itu mesti bergelut dengan upaya pengambilan budaya secara terang-terangan
*****
betapa Heran betul Suryatati A. Manan mendengar perkataan tamunya. Walikota Tanjung Pinang, Bintan, Kepulauan Riau ini bersama masyarakatnya baru saja meresmikan slogan baru kota mereka: Kota Gurindam Negeri Pantun.
Kala itu di 2007 seorang tamu asal Malaysia protes penetapan slogan tersebut karena menurutnya pantun berasal dari Malaysia. “Berdirinya kota Malaka itu ada pantunnya,” kata Suryatati menirukan ucapan tamunya itu.
Itu bukan kejadian kali pertama dan terakhir kota ini berurusan dengan utusan-utusan negara tetangga itu. Seorang pejabat dinas pariwisata kota ini bercerita ia berkali-kali menerima permintaan dari negeri jiran itu agar mereka dikirimi guru yang bisa mengajar tarian khas melayu.
Sering pula datang orang yang berniat mendokumentasikan berbagai artefak kebudayaan melayu yang ada di Tanjung Pinang. Permintaan yang selalu ditolak. “Kalau mereka ingin menikmati budaya melayu ya datang saja ke sini, bukan dibawa ke sana,” ujarnya.
Menghadapi tekanan-tekanan itu, masyarakat Tanjung Pinang tak reaktif dengan membuat aksi sweeping warga Malaysia. Karena banyak dari orang yang Malaysia yang berkunjung sebagai wisatawan dan itu justru mendatangkan devisa.
Langkah membentengi kebudayaan itu justru ditempuh lewat mendokumentasikan pantun dengan target membukukan sejuta pantun klasik dan modern. Sejauh ini sudah ada 10 ribu pantun yang berhasil dikumpulkan. Kota ini juga menargetkan membangun istana pantun yang rencananya akan selesai pada 2012.
Dokumentasi produk budaya asli Indonesia juga dilakukan pengamat kuliner, Bondan Winarno. Kaget karena Malaysia memasukkan kuetiauw sebagai warisan budaya lokalnya, Bondan memulai proyek pendataan kuliner khas Indonesia.
Akan sangat baik jika hasil dokumentasikan itu dibukukan karena buku memang diakui sebagai sumber informasi dan rujukan resmi ketimbang lembaran dokumen pribadi ataupun data yang dimuat dalam situs internet. Yang terpenting, ketimbang mencaci dan merancang aksi sweeping, kota Tanjung Pinang dan Bondan justru mengarahkan energinya ke cara-cara yang lebih positif.
Okta dikutif dari blog.tempoitneraktif.com
