Tempat belanja online busana muslim mulai dari Gamis, blus, kaos, jilbab, kerudung, baju koko untuk pria dengan harga terjangkau.
Showroom
Jln Swadaya II A No. 3 Poltangan Tanjung Barat Jakarta Selatan
- (021)93329422, 081316209621, 082125437448, 0878 89316065
email : rumahmadina@gmail.com
Menikmati Lemahnya Iman
Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika ia tidak mampu cegahlah dengan lisannya, dan apabila tidak mampu maka dengan hatinya. Yang demikian itu adalah selemah-lemah iman. (Hadits riwayat Imam Muslim).
Akuilah, barangkali Anda adalah salah seorang Muslim yang hatinya bersorak-sorai mendengar redaksi hadits yang sudah sangat terkenal ini. Barangkali hadits ini membuat Anda bisa merasa lega sedikit, membuat dada Anda terasa lebih lapang karena Allah telah memberi keringanan yang amat memudahkan bagi orang-orang yang beriman.
Ya, hadits ini sering dijadikan pembenaran oleh kita. Amar ma’ruf nahi munkar pun akhirnya benar-benar terkikis sedikit demi sedikit, lantaran kita merasa yakin bahwa Allah masih akan menganggap kita sebagai hamba-Nya yang beriman, meskipun imannya sangat lemah. Kita tidak lagi berkonsentrasi pada amar ma’ruf nahi munkar, karena sudah merasa cukup dengan mengingkari kemunkaran dengan hati saja. Biarpun lemah, tapi masih dianggap beriman ‘kan?
Sebenarnya hal tersebut muncul akibat ketidaktelitian kita dalam membaca hadits di atas dan memahami makna “iman” itu sendiri. Pertama, harus diingat bahwa iman itu adalah sesuatu yang diyakini oleh hati dan muncul dalam lisan dan perbuatan manusia. Ada keyakinan, ada ucapan, ada pula perbuatan. Begitulah iman.
Kedua, jika kita membaca hadits di atas secara jeli, seharusnya kita mengerti bahwa yang disebut sebagai “selemah-lemahnya iman” bukanlah sekedar “mengingkari kemunkaran di dalam hati” saja. Bacalah haditsnya dari awal. Mencegah kemunkaran dengan tangan, jika tidak mampu maka dengan lisan, dan jika tidak mampu juga maka cukuplah dengan hati. Nah, atas dasar apa Anda merasa tidak mampu?
Mampukah Anda melakukan kuda-kuda selama satu jam tanpa istirahat? Jangankan satu jam, dua jam pun banyak yang sanggup! Mampukah Anda melakukan sit-up ratusan kali? Wah, Britney Spears dan Madonna pun sering melakukannya.
Kita sering memberi cap “tidak mungkin” pada hal-hal yang kita anggap sangat sulit untuk dilakukan. Padahal, sulit bukan berarti tidak mungkin. Kita hanya malas mencoba. Kita mencari-cari pembenaran agar hidup kita ‘aman-aman saja’, dan tidak perlu susah-susah. Ternyata, soal iman pun kita bersikap demikian.
Selemah-lemahnya iman adalah imannya seseorang yang ingin mencegah kemunkaran dengan tangannya tapi tidak mampu, dan ingin mencegah dengan lisannya tapi tidak mampu juga, lantas ia hanya bisa mengingkari kemunkaran tersebut dengan hatinya. Hanya mereka yang punya alasan kuat atas ketidakmampuannya mencegah kemunkaran dengan tangan dan lisannya sajalah yang berhak merasa lega mendengar hadits ini. Hal ini sejalan dengan definisi iman yang juga meliputi perbuatan. Jika tidak mampu berbuat atau berucap, maka itulah selemah-lemahnya iman. Tapi harus ada alasan yang bagus atas ketidakmampuan tersebut, minimal sudah ada usaha atau perencanaan ke arah situ. Bagaimana dengan mereka yang mencari-cari pembenaran agar tidak perlu melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dengan hadits ini? Pantaskah mereka merasa dirinya beriman?
Kalau tidak pernah mencoba atau tidak pernah melakukan perhitungan yang cermat terhadap sesuatu, maka tentu kita tidak ada hak untuk berkata “tidak mampu”. Betapa luar biasa tidak tahu malunya mereka yang berkata “saya tidak mampu”, padahal kalimat yang tepat untuk diucapkannya adalah “saya terlalu pengecut”. Ya, sebagian manusia memang terlalu pengecut untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Memang agama Allah ini hanya milik para pemberani saja.
Tentu saja kita memaklumi diamnya seseorang yang hendak mencegah kemunkaran ketika kepalanya ditempel dengan moncong senjata. Tentu kita mau memaafkan seorang Muslim yang mulutnya dikunci rapat ketika sebilah belati menempel di tenggorokannya. Ya, jika nyawa terancam, berpura-pura murtad pun sah-sah saja. Tapi apakah kita berada dalam posisi itu?
Tidak, tidak demikian. Sebenarnya banyak sekali peluang mencegah kemunkaran yang kita sia-siakan setiap harinya. Kita bisa melakukannya dengan tangan atau lisan, tapi belum apa-apa kita langsung memilih untuk mengingkarinya dengan hati saja. Akankah kita dianggap sebagai hamba-Nya yang beriman? Entahlah.
Oprah Winfrey menawarkan seratus ribu dolar bagi siapa pun yang bisa membantu FBI menangkap para pelaku tindak kekerasan seksual terhadap anak-anak. Dalam waktu 48 jam saja sudah dua orang yang tertangkap. Beginilah yang disebut mencegah kemunkaran dengan tangan. Karena Oprah Winfrey punya uang dan jaringan informasi yang kuat, maka ia bisa menangkap penjahat lebih cepat daripada FBI. Sayang, Oprah bukan Muslim.
Beginilah kita. Masing-masing menikmati imannya yang sangat lemah. Belum apa-apa sudah berputus asa. Belum mencoba sudah mundur ketakutan. Bagaimana mau mencegah kemunkaran dengan tangan jika sudah gemetar duluan, atau bahkan tidak punya tangan?
Sudah saatnya kita berpikir lebih serius untuk mencegah kemunkaran. Saatnya kita menyingsingkan lengan baju dan memperkuat tangan-tangan kita. Termasuk dalam istilah “tangan” dalam hadits di atas adalah : uang, kekuatan politik, perangkat hukum, sumber daya manusia, jaringan informasi dan komunikasi, dan sebagainya.
Ayo bersiap! Masih beriman, ‘kan?
wassalaamu’alaikum wr. wb.
dikutif dari akmal.multifly.com
