Tempat belanja online busana muslim mulai dari Gamis, blus, kaos, jilbab, kerudung, baju koko untuk pria dengan harga terjangkau.
Showroom
Jln Swadaya II A No. 3 Poltangan Tanjung Barat Jakarta Selatan
- (021)93329422, 081316209621, 082125437448, 0878 89316065
email : rumahmadina@gmail.com
Balutan Estetik Muslim
Selawat nabi mengalun syahdu di ballroom Hotel Hilton Bandung beberapa waktu lalu, sekaligus mengawali peragaan busana muslim rancangan dari Ikatan Perancang Busana Muslim (IPBM) Jawa Barat sebagai kolaborasi yang apik dan pas.
Mengusung tema “Esthetic in Fashion”, puluhan koleksi dari 13 perancang menghiasi panggung peraga, dari busana muslim wanita dan pria hingga anak-anak. Semua begitu indah, unik, stylish, dan tanpa melupakan kaidah syariah Islam. “Kami ingin berdakwah melalui busana muslim dan memberikan akhlak kaum muslimah dalam berbusana di tengah kehidupan modern,” kata Ketua IPBM Iva Lativah di sela-sela peragaan.
Koleksi rancangan Iva Lativah membuka acara ajang unjuk busana itu. Lewat “Art Deco-Batik”, Iva memadukan seni desain yang populer pada era 1920-an dengan batik. Kombinasi warna tua, siluet dan aplikasi batu, payet pada kain sutra alat tenun bukan mesin (ATBM), serta batik membuat busana terlihat anggun dan simpel. Yang unik, di setiap busana muslim, baik abaya atau kemeja, pada bagian dada terdapat inisial huruf nama Iva Latifah. “Rancangan ini lebih pada keselarasan konsep Barat dan Timur yang menarik,” tuturnya.
Rancangan yang tak kalah unik ditampilkan Ernie Kosasih, yang bertema “In The Mood of Western”. Koleksi busana muslim bergaya etnik koboi ini memberikan warna berbeda dari busana muslim yang identik dengan tunik dan abaya.
Unsur kasual busana koboi yang diramu menjadi busana muslim modern menggambarkan peleburan unsur formal dan kasual, sehingga tercipta busana unik, namun wearable, seperti rompi yang dipadu dengan gaun feminin bertumpuk serta bervolume. Busana itu terlihat sangat eksotis. Terlebih dengan pemilihan warna-warna alam, seperti cokelat, kopi, hitam, krem, dan karamel pada bahan vinyl, paper silk, rami, silk, katun, tenun polos, hingga motif kotak-kotak. Lalu ditambah permainan berbagai jenis pleats dalam berbagai ukuran, arah, dan bahan dengan bentuk simetris serta asimetris, yang menambah kesan mewah.
Simak pula rancangan Nuniek Mawardi lewat tema “Ambiguous Earthy”. Terinspirasi oleh kebudayaan Assyria, Nuniek menghadirkan koleksi busana muslim dengan teknik draperi dan tunik yang diilhami oleh pakaian kebesaran raja. Ornamentasi berupa teknik sulam usus yang dikombinasikan dengan teknik beading pada bahan tenun gedog Tuban dan lurik Yogyakarta menghasilkan karya yang konseptual serta atraktif.
Kerudungnya juga berbeda. Kerudung yang biasa bergaya turban atau lilitan diubah dengan gaya topi Assyria. Sungguh unik. Untuk koleksi kali ini, Nuniek tak lagi menghadirkan bling-bling pada rancangannya, melainkan lebih pada penggunaan unsur alam, seperti kayu dan batu. “Sesuatu yang glamor itu tak harus dengan bling-bling, tapi lebih pada unsur yang unik dan langka.”
Bukan cuma busana muslim unik, peragaan malam itu semakin lengkap dengan hadirnya koleksi busana muslim dengan jenis busana malam. Rangkaian busana malam berciri islami pun hadir, seperti koleksi “Senandung Rindu” karya Fenny Sofia. Busana muslim yang cantik dan feminin hadir dalam siluet dua potong maupun gamis dengan detail opnaisel, kerut, bisban, payet, serta corsage.
Penggunaan bahan sifon silk, katun, dan satin dengan warna hijau daun serta cokelat tanah memberikan efek melayang yang menegaskan keluwesan dan kecantikan kaum Hawa. “Keindahan alam Parahyangan dan kecantikan gadis Bandung yang menginspirasi koleksi saya,” tutur Fenny.
Masih mengusung tema alam, A’Zura Moslem Wear menyajikan koleksi busana warna warni pelangi. Temanya “Spirit of the Colorful Rainbows”, terinspirasi oleh berakhirnya musim hujan dan hadirnya musim panas, yang ditandai dengan semburat pelangi di ufuk timur. Busana gaya etnik dengan aksen plits, rempel, a line, dan renda. Pilihan materi sutra, organdi, sifon, dan batik katun memicu efek melayang sehingga terlihat kian elegan.
Rancangan yang lebih glamor dihadirkan Hennie Noer melalui “Ethnic Harmony”. Gaya Victorian dan ethnic classic dalam nuansa batik menjadi suguhan berbeda pada malam itu. Terlebih dengan bahan sifon, tulle, organdi dan tambahan batu-batuan, payet, bordir, serta bros etnik, yang menegaskan kesan mewah.
Perancang lain yang ikut menyemarakkan di antaranya Herman Nuary, melalui “Canting Nusantara”, Meeta Fauzan (Cheer It Up), Ning Zulkarnain lewat koleksi “Fascination”, Betty Achyar (Pesona Tenun Ujung Pandang), Joko Aditya (Borneo), dan Yana Kusumaningtyas.
Ketua penyelenggara acara Herman Nuary berharap peragaan ini dapat menambah khazanah busana muslim Tanah Air. “Kami berharap dapat memberi masukan kepada kaum muslimah agar tetap tampil lebih rapi, serasi, dan seutuhnya.”
sumber : TEMPO
